Meninggalkan Rumah

Rumah adalah tempat di mana segala asa dan rasa berkumpul. Tempat pertama menemukan cinta pertama dan juga kehilangan. Tempat segala cerita dimulai dan berakhir. Kota ini adalah rumah bagi semua yang pernah menjejakkan kakinya di sini. Hidup saya tidak akan pernah sama jika saya tidak memilih tinggal di Yogyakarta. Hampir empat tahun yang lalu saya bimbang apakah saya yakin mau pindah dan memilih untuk melanjutkan kuliah di jurusan arsitektur di salah satu universitas swasta di Jakarta. Pada akhirnya saya membulatkan tekad untuk meninggalkan Jakarta dan pindah ke sini. Jika saya bisa, saya ingin pergi kembali ke empat tahun lalu dan berterima kasih kepada diri saya yang dulu karena mengambil keputusan yang tepat. Di sini, saya merasa bahwa saya lebih dekat dengan orang tua saya terutama Ayah. Saya merasa bahwa dulu kami tidak pernah sedekat sekarang ini dan selalu kaku. Sejak Ayah saya pensiun dan memutuskan untuk menemani saya di Jogja selama satu bulan, disitulah saya merasa semakin dekat dengan beliau dan lebih akrab. Di sini saya belajar banyak dari lingkungan saya, dari teman-teman yang dulu adalah orang asing bagi saya tapi sekarang telah berubah menjadi keluarga yang saya sayang. Di sini saya kenal berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda-beda dan mengamini bahwa perbedaan itu memang nyata ada dan itu adalah indah. Cerita ini saya tulis untuk mengurangi kegalauan saya yang sedikit lagi akan meninggalkan rumah, mungkin dalam beberapa bulan lagi. Mungkin juga tidak. Saya belum tahu.

Di kota ini adalah tempat pengalaman-pengalaman baru berasal dan juga penyesalan yang tertinggal di sudut-sudut kota. Saksi bisu yang menorehkan sejarah baik dan buruk. Perlahan-lahan, kamu merasa bahwa kota ini seperti ibu yang mengajarimu bagaimana cara menjadi dewasa tanpa harus menggurui, mengajarimu bagaimana menjadi seorang yang santun dan bijak dan sekali lagi walau awalnya berat untuk meninggalkan kota kelahiranmu, kamu akan bersyukur menjadi anak rantau di kota ini. Setiap jalan yang pernah aku, kamu, dan kita semua lalui adalah cerita yang tidak pernah sama. Cerita yang entah akan disimpan sendiri atau dibagi. Cerita tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Cerita tentang orang-orang yang pernah singgah dan pergi. Cerita tentang aku, kamu dan kita yang pernah merasakan dan akan selalu memanggilnya dengan sebutan rumah. Karena pada dasarnya rumah bukan hanya benda statis yang sebatas atap, dinding dan ubin yang dingin tetapi melebur dan berubah menjadi dinamis.

Tempat dimana kamu kembali pulang dengan seduhan teh, kopi atau sekedar bercengkrama sambil makan nasi kucing di angkringan di ujung gang.

 

photo source

Ouais, je sais que la vie est dur

Belum lama ini, saya bertemu dengan teman baik saya dan sampailah pada perbincangan mengenai hidup. Ya, hidup. Esensi kehidupan menurut saya dapat bermacam-macam, tiap orang punya pandangannya sendiri mengenai bagaimana menjalani kehidupan. Hidup saya waktu SMA dan sekarang saat kuliah sudah pasti jauh berbeda. Ditambah lagi pengalaman-pengalaman baru yang saya dapatkan serta keberanian diri untuk keluar dari zona aman dan nyaman sangat penting untuk membentuk karakter diri seseorang. Tergantung dari orang tersebut apakah mau melakukannya atau tidak. Semakin saya bertambah tua, saya senang ketika bertemu dengan orang-orang yang bisa diajak duduk, ngobrol santai sambil ngopi atau minum es teh di aa burjo atau minum bubble tea (yang kini telah menjamur di Jogja) sambil diskusi tentang kehidupan, masa lampau dan yang akan datang, kenangan-kenangan masa kecil atau mimpi-mimpi di masa depan. Semuanya. Tentang apa yang ada di dunia ini. Menurut saya itu obrolan yang asyik. Hal yang ingin saya garisbawahi pada tulisan ini adalah, jalani hidup dengan caramu dan dengan apa yang kamu kehendaki, ngga usah pikirin apa kata orang. Kadang satu tuturan yang keluar dari mulut seseorang bisa berakibat fatal kepada lawan tuturnya. Lalu, apa korelasi dengan kalimat yang saya tebalkan itu? Ada. Dulu waktu saya kecil, saya selalu diejek sama seorang kerabat kalau kulit saya hitam hanya karena dia putih. Kemudian, ketika saya mulai duduk di bangku SMA, kerabat saya bilang kalau saya pendek dan gendut. Padahal saya tadinya merasa diri saya baik-baik saja sampai dia bilang seperti itu, atau setiap ketemu keluarga yang udah lama ngga jumpa, komentarnya gini, “wah, kamu gendutan, ya!”.  Duh, saya jadi minder dengan diri saya sendiri. Sampai sini paham kan, kalau kamu terus menurus diberikan komentar seperti itu dari kecil, otomatis pola pikirmu akan sama dengan mereka dan kamu percaya dengan apa yang mereka katakan bahwa kulit kamu ngga putih, kamu pendek dan gendut. Mungkin buat kalian komentar “wah, kamu gendutan” atau “kok kamu kurus banget, sih” itu hal yang wajar dan biasa aja. Tapi, kamu harus sadar bahwa ketika kamu bicara seperti itu, kamu sudah berhasil membuat hati mereka sakit, membuat mereka down dan ngga pede. Tapi, di sisi lain kita ngga bisa sepenuhnya menyalahkan mereka karena saya yakin dari jaman dahulu (koreksi kalau saya salah), kita sudah di doktrin bahwa cantik itu yang kulitnya putih, yang tubuhnya langsing dan semampai. Berapa banyak iklan yang kita lihat di tv lokal tentang produk-produk kecantikan yang mengagungkan kulit putih? Jadi, apakah maksud dari iklan tersebut secara tersirat ingin mengatakan bahwa yang berkulit hitam itu jelek? Sesungguhnya masih banyak contoh lainnya dan contoh diatas hanyalah salah satu contoh umumnya aja.

Ketika saya mulai kuliah, saya pun masih hidup di bawah bayang-bayang perkataan kerabat saya. Saya masih merasa minder dengan apa yang saya miliki. Padahal itulah yang harus saya syukuri. Sampai pada tahun lalu, saya sadar itulah yang menghambat diri saya untuk berkembang, saya kemudian mulai belajar untuk berdamai dengan diri saya dan menerima apa yang saya punya. Saya bahagia menjadi diri saya yang sekarang. Saya bahagia karena saya kini menjalani hidup saya sesuai dengan apa yang saya inginkan, dengan cara saya sendiri dan menurut saya itulah beberapa esensi kehidupan yang penting. Setidaknya untuk  saya sendiri. Karena pada akhirnya kita akan menjalani hidup masing-masing dan mencari sumber kebahagiaan dengan cara yang berbeda-beda.

photo source

Narasi Pendek Tentang Jarak dan Waktu

 

Asal kamu tahu, aku disini masih berjuang untuk melebur jarak dan waktu menjadi satu.

 Untukmu yang selalu ada dalam doaku, berharap suatu hari nanti kita berdua tidak harus menanggung beban bernama jarak dan waktu. Masih segar dibenakku ketika kamu berkata padaku bahwa jarak dan waktu bukanlah hal yang besar dan aku pun berpendapat demikian. Namun, kita berdua salah. Tidak mudah menyelaraskan perbedaan waktu antara malam di tempatku dan siang di tempatmu. Lalu, jarak yang membuat semuanya semakin rumit.

Terpisah ribuan kilometer darimu membuatku iri. Iri kepada orang-orang disekitarmu yang setiap hari dapat dengan senantiasa melihat dan mendengar celotehanmu. Jika aku bisa, aku rela bertukar tempat dengan orang-orang didekatmu demi dapat bertemu denganmu kapanpun aku mau. Aku juga ingin seperti pasangan yang lain, pergi ke bioskop bersama atau sekedar ngobrol di kafe sambil meminum kopi hitam favorit kita.

Semua mimpi-mimpi kita sudah kusimpan dan kutata rapi di dalam kotak mimpi. Dulu, ketika aku rindu padamu, aku selalu membuka kotak tersebut dan berdoa supaya apa yang selama ini kita mimpikan akan menjadi nyata. Namun, harus aku kemanakan kotak mimpi tersebut jika sekarang tidak ada lagi “aku dan kamu”?

Terkadang jarak senang bermain-main dengan kita. Jarak bisa mendekatkan kita yang jauh dan menjauhkan kita yang sudah jauh. Kali ini, kita berdua sepakat bahwa jarak ditambah waktu yang membuat hubungan kita merenggang. Kamu tahu apa yang lebih sakit dari jarak dan waktu? Yaitu perasaan yang masih saling sayang namun tidak dapat lagi bersama. Mungkin, memang lebih baik seperti ini untuk sementara waktu. Begini lebih baik, daripada menimbun segala prasangka buruk, jarak dan waktu membiarkan kita untuk menyelesaikan urusan masing-masing dan pelan-pelan mengajarkan kita untuk menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, aku berharap pada suatu hari nanti, di waktu yang tepat dan jarak yang tidak lagi menjadi penghalang, aku dan kamu dapat kembali bertemu. Menyusun potongan-potongan cerita hidup masing-masing yang telah terlewatkan.

 

 photo source

 

 

 

 

What a fun day!

Hola!

Hari ini saya akan cerita tentang apa yang saya lakukan kemarin, karena jujur aja hari ini saya ngga kemana-kemana cuma dikosan nonton film favorit yang ngga pernah bosen untuk ditonton, film lawas sih hehe “10 Things I hate About You” mungkin ini AADC-nya Amerika pada tahun segitu (selain Clueless pastinya) 😀 Buat yang belum nonton, jangan lupa ditonton , yah! Oke, jadi kemarin ternyata ngga ada kelas pagi, padahal udah duduk manis di kelas sambil dengerin keluhan teman-teman tentang semua deadline pada hari Jumat. Sekitar jam 10an Mamong, Mutek, Way, Didi dan saya balik ke kosan Karangmalang tercinta buat transit sebentar, sekedar leyeh-leyeh wifian, nonton tv dan tiduran sambil nunggu jam 1 siang karena kita ada kelas Spanyol dan Metopen. Selesai kelas, saya dan mamong janjian sama Yui buat makan di resto Jepang. Tempatnya lumayan jauh di jl. Magelang, saya lupa KM berapa tapi letaknya agak masuk kedaalam dan dipinggir sawah. Jadi ternyata si Yui juga bawa temannya, namanya Yuki. Agak ngga enak juga sih sama mereka karena kita datangnya agak telat karena mamong mesti jemput balik ke Karangmalang dulu habis dari Sardjito. Okedeh setelah sampai sana kita langsung pesan makanan berhubung udah lapar banget. Sebelumnya saya udah pernah sih makan di resto Jepang, tapi yang ini agak beda (atau emang saya yang norak? haha) jadi pas duduk kita dikasih sapu tangan dingin gitu, fungsinya buat bersihin tangan sebelum makan, untung kita datang kesana sama orang asli sananya langsung jadi ngga keliatan noraknya hehe malah dikasih tau kalau selain buat bersihin tangan, bisa juga dipakai buat bersihin muka… tapi biasanya yang ngelakuin itu orang-orang tua doang (padahal tadinya sebelum dikasih tau, itu mau saya pake buat ngelap muka haha) 😀 Terus sambil nunggu makanan datang, di belakang tempat kita duduk ada rak buku sama majalah yang sebagian besar bahasa Jepang gitu, okelah kita memutuskan untuk liat-liat buku masakan. Yui dan Yuki pada saat itu berperan sebagai translator kita dan denger mereka ngomong bahasa Jepang satu sama lain, saya merasa lagi nonton Waku-Waku sama NHK tapi seru sih jadi tau makanan-makanan Jepang plus resepnya selain yang biasa tersedia di resto-resto Jepang pada umumnya. Nah, habis selesai makan, ternyata Yui dan Yuki bikin surprise buat si Mamong yang minggu lalu ulang tahun, wah ngga nyangka banget bakal ada dessert dadakan 😀 Setelah itu habis maghrib saya dan mamong niatnya mau nonton Cultural Fest yang katanya ada di PKKH, oke kita cabut kesana dan begitu datang, kok beda ya suasananya dan suruh bayar tiket padahal acaranya gratis, ternyata… si Mamong salah info dan yang di PKKH itu adalah acaranya salah satu jurusan kampus swasta di Jogja. Yah sebagai anak kosan yang selalu mempertimbangkan kemana uang dihabiskan, saya ngga mau lah bayar buat acara kayak gitu hehe. Acara yang pengen kita datangin ternyata diadakan di calon tempat saya wisuda tahun depan…. GSP. Rame banget dan lebih seru daripada acara yang di PKKH, mungkin karena jadwal bentrok makanya banyak orang yang lebih pilih datang ke GSP, selain bisa cuci mata sekali lagi acara ini gratis! Kita disana ngga lama cuma sekitar sejam aja karena udah capek banget seharian ngga istirahat tapi kemarin bener-bener fun, jadi makanya hari ini saya butuh istirahat untuk recharge energi 🙂

 

C’était un très bon weekend..

Selamat malam!

Setelah disibukkan oleh aktivitas perkuliahan yang ngga ada habisnya, akhirnya saya punya waktu seminggu full untuk rehat sejenak, sekedar untuk melemaskan otot dan otak dari tugas-tugas tak berkesudahan. Jadi, saya memutuskan bahwa weekend kemarin adalah weekend terbaik saya (karena biasanya waktu weekend, saya menjadi manusia yang sangat tidak produktif). Pertama, keluarga saya dari Jakarta datang ke Jogja untuk liburan. Senang banget rasanya setelah terakhir ketemu orangtua akhir Januari lalu. Lalu, karena tiap tahun saya mengikuti acara Printemps Francais 2016 (Printemps adalah bahasa Prancis dari musim semi, dan sesuai dengan judul acaranya, Printemps Francais sendiri adalah acara yang memperingati dimulainya musim semi di Prancis, alors, rangkaian acara ini dimulai dari tanggal 28 April-11 Juni 2016) yang diadakan oleh Institut Francais Indonesia, jadi saya ngga mau ketinggalan buat nonton konser musik yang diadakan oleh mereka. Minggu kemarin saya nonton penampilan dari duo KO KO MO, jujur aja saya belum pernah denger apalagi tau tentang grup ini. Untungnya kemarin saya datang “kepagian” dan sempet ngeliat mereka soundcheck, jadi saya dengar beberapa penggalan lagu yang bakal mereka nyanyiin malamnya. Saya langsung suka sama duo ini, bisa dibilang genrenya rock ala tahun 70-an. Sedikit tambahan dan mungkin ini agak sedikit out of topic karena album baru M83, Junk yang juga band asal Prancis yang lagunya banyak dijadikan soundtrack dari film-film terkenal, sebut saja The Fault In Our Stars, Divergent dan Oblivion bakal konser bulan ini, lumayan banyak unsur musik tahun 70-annya dan ternyata konser ini merupakan bagian dari acara Printemps Francais 2016! Lanjut, di jadwal acara harusnya dimulai pukul 16.00 tapi ternyata ngaret sampai 3 jam!! KO KO MO naik panggung dan mulai membawakan lagu-lagu mereka. Penampilan mereka kemarin bisa dibilang atraktif dan enerjik.

IMG_3044
dokumentasi pribadi

 

Setelah KO KO MO tampil, acara dilanjutkan oleh penampilan dari Thylacine yang
merupakan nama panggung dari seorang DJ Prancis bernama William Rezé. Musiknya emang enak banget buat ajeb-ajeb tapi tetap berkelas dengan sentuhan saksofon yang juga dimainkan langsung oleh dj ini.

capture-20160509-201248
dokumentasi pribadi

Uniknya penampilan Thylacine disuguhi dengan permainan gambar-gambar grafis yang berubah-ubah mengikuti tempo lagunya. Makin malam, penonton makin menggila dan memang secara keseluruhan acara ini keren banget walaupun agak sedikit ngaret dari jadwal tapi dengan penampilan kedua musisi ini, semuanya benar-benar worth it dan fyi acara ini gratis!

Omar : Tragic yet amazing story from Palestine

Seru, menegangkan dan tragis mungkin dapat menggambarkan perasaan saya ketika menonton film ini. Mengambil tema mengenai konflik Palestina dan Israel, film Omar yang disutradarai oleh Hany Abu-Assad memiliki plot yang menarik untuk diikuti. Sehabis menghampiri pacarnya yang bernama Nadia (Leem Lubany), Omar (Adam Bakri) berpapasan dengan tentara Israel yang kemudian menghajarnya tanpa alasan tertentu. Untuk membalaskan dendamnya tersebut, Omar bersama  sahabatnya yang juga kakak dari Nadia, Tarek (Eyad Hourani) dan Amjad (Samer Bisharat) bersekongkol untuk membunuh seorang tentara Israel.

large_4DimIhSAnEbJxbzs6byZqLnU1mI
sumber : google.com

Beberapa hari kemudian Omar berhasil ditangkap dan disiksa oleh seorang agen Israel bernama Rami (Waleed Zuaiter) dan dijanjikan akan dibebaskan dengan syarat ia harus membawa Tarek. Setuju, Omar pun kembali pulang ke Palestina dengan menjadi mata-mata pemerintah Israel dalam memburu Tarek. Kemudian ia menemui Nadia untuk menanyakan keberadaan kakakknya tersebut. Disini, penonton diajak berpikir dan menebak apakah Omar akan menghianati sahabatnya sendiri atau membantu pemerintah Israel dalam menemukan Tarek.

 

Selain itu kisah percintaan antara Omar dan Nadia yang menurut saya sangat manis tetapi tragis karena Omar yang akan mengajak Nadia untuk menikah sampai menyisihkan uang hasil upahnya sebagai pembuat roti untuk “modal” mereka menikah nanti, harus menerima kenyataan bahwa Amjad menghianatinya dan menceritakan kepada Omar bahwa ia menghamili Nadia.

film-omar-650
sumber : google.com

Dua tahun berlalu dan kini Nadia telah memiliki dua orang anak dari Amjad, Omar dengan misinya yang baru datang menghampiri Amjad dirumahnya dan bertemu dengan Nadia yang sudah sejak lama tidak dijumpainya. Sampai pada akhirnya setelah Nadia bertanya mengapa Omar tidak melamarnya, ia menyadari bahwa Amjad telah membohonginya dan ia membuat rencana baru dengan meminta bantuan Rami.

Walaupun film ini keluaran tahun 2013 dan mungkin sudah banyak review mengenai film ini, saya tertarik untuk membahasnya karena saya yakin masih banyak yang masih belum menonton film ini atau bahkan tidak tahu karena banyaknya film-film hollywood yang masuk ke Indonesia. So, take your time, grab your popcorn and enjoy the movie!

 

 

Ulasan Film : Heroes Reborn

Beberapa minggu lalu sewaktu saya lagi gonta-ganti channel tv, ada iklan serial tv yang bakal tayang tanggal 24 atau 25 September 2015, judulnya Heroes Reborn.

download

Awalnya saya pikir ini lanjutan Heroes yang udah cukup lama selesai tayang, dan ternyata benar kalau Heroes Reborn adalah salah satu sekuel dari serial Heroes tetapi bedanya ada beberapa pemain baru yang tampil di serial ini. Jujur aja saya belum pernah nonton serial Heroes tapi saya tahu salah satu pemainnya yang namanya Masi Oka bakal muncul lagi di serial ini. Kebetulan di FOX juga sekarang lagi diputer ulang serial Heroes tapi sayangnya seasonnya ngga berurutan, jadilah minggu kemarin adalah pertama kalinya saya nonton Heroes. Setelah nonton Heroes Reborn, jujur saya masih ngga mudeng sama jalan ceritanya karena saya ngga ngikutin serial Heroes yang sebelumnya. Tapi ada beberapa scene yang menarik buat saya, seperti ketika Miko bisa masuk ke dalam video game dan balik lagi ke dunia nyata. Agak aneh sih memang tapi sekali lagi namanya juga film hehe. Dan sampai pada kesimpulan, heroes ini kayak mutantnya X-Men, ya? Karena saya salah satu penggemar X-Men jadi saya mikir kalau ada kesamaan cerita antara dua film ini, semua yang punya kekuatan super sama-sama menyembunyikan identitas dan kekuatannya biar ngga ditangkap. Ada yang setuju?

Ngomong-ngomong, The Walking Dead season 6 bakal tayang tanggal 12 Oktober ini. A highly recommended tv series you have to watch this month. Totally worth the wait!

best regards,

ziyah.